Mobil Pick Up Memiliki muatan BBM Kebakar di Kabupaten Buru

Ambon – Mobil pengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) tipe pick up kebakar Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru, Maluku, Selasa (22/7/2025).

Mobil nahas itu kebakar saat lewat di jalan raya di antara Dusun Debowae dan Dusun. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Kapolres Pulau Buru AKBP Sulastri Sukidjang menerangkan mobil pick up itu membawa sekitar 175 liter solar yang dibungkus dalam lima jerigen ukuran 35 liter.

Saat sebelum kebakaran terjadi, masyarakat sebelumnya sempat menyaksikan ada recikan api dan menyikat semua sisi mobil.

“Info dari masyarakat mobil pikap itu bawa BBM sekitar 5 jerigen ukuran 35 liter, mendadak mobil keluarkan recikan dan menyikat tubuh mobil,” ucapnya ke mass media, Selasa.

Untungnya, pengemudi sukses keluar dalam mobil bersama istri dan seorang anaknya. Masyarakat yang melihat peristiwa itu tiba memberi bantuan pertolongan. “Api dipadamkan masyarakat denga ambil air di selokan yang ada di sekitaran tempat peristiwa,” kata Sulastri.

Polisi tetap menyelidik kejadian kebakaran itu. Sangkaan sementara kebakaran muncul karena jalinan arus pendek listrik atau korsleting di mobil itu.

“Diperhitungkan kebakaran mobil karena korsleting Listrik. Recikan api di kabel sisi tubuh mobil menyikat muatan BBM,” bebernya

Jeritan Sunyi dari Timur Waesama: Keinginan Akan Alat Berat Untuk Jalan Kehidupan

Buru Selatan – Dari penjuru timur Waesama, suara keinginan menyodok tembus sunyi, sentuh nurani yang seharusnya sensitif: suara dari masyarakat yang inginkan perhatian. Atas nama warga Waesama Timur, ajakan ikhlas dan penuh berharap diperuntukkan ke Pemerintahan Wilayah dan DPRD Kabupaten Buru Selatan.

Mereka meminta: sudi sekiranya disiapkan kontribusi alat berat untuk normalisasi jalan penyambung di antara Dusun Simi dan Lena, dan lajur Dusun Waesili ke Waetawa—urat nadi yang menyambungkan kehidupan setiap hari ke arah pusat pemerintah di Namrole.

Jalan yang dahulu menjadi pengantar harapan dan nafkah, sekarang sering menjadi penghambat keinginan. Tiap musim penghujan, banjir tiba tanpa ampun, menghanyutkan mimpi dan menghancurkan jalan. Longsor silih ganti, memutuskan akses, dan memaksakan masyarakat tempuh halangan cuma untuk keperluan dasar: jual hasil kebun, bawa anak sekolah, atau sekedar berobat.

“Kami bukan menuntut kemewahan, cuma minta dibukakan jalan ke arah kehidupan yang pantas,” ungkapkan satu diantara figur masyarakat dengan terbuka di Media Sosial.

Sekarang, warga gantungkan keinginan mereka di bahu beberapa pimpinan. Mereka yakin, jalan yang bagus akan buka rezeki, memperkuat persaudaraan, dan menyambung nyawa banyak keinginan.

Mudah-mudahan suara dari timur ini tidak cuma menjadi gaung yang lenyap di lembah, tetapi sampai ke beberapa meja pengambil keputusan, mengetok hati, dan berubah jadi tindakan riil.

Karena masyarakat cuma ingin satu perihal: dapat hidup normal di tanah sendiri.